ITB Bergerak Harmonis dengan Alumni Penggerak Persampahan, Bangun Sanitasi Berkualitas di Cikahuripan, Sumedang untuk Mengurangi Sampah Plastik

2 Sep 2024

, ,

Plastik dan Dilema Sampah Plastik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Produksi plastik cenderung akan terus meningkat setiap tahunnya. Plastik telah menjadi bahan esensial hampir di semua sisi kegiatan manusia, seperti: pengemasan, konstruksi bangunan, transportasi, peralatan elektronik, hingga industri. Berdasarkan dari Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD pada tahun 2022, produksi plastik dunia meningkat dua kali lipat dalam dua dekade dari 234 juta ton di tahun 2000 menjadi 460 juta ton di tahun 2019. Penggunaan plastik yang sedemikian masif pada gilirannya menciptakan sampah plastik yang membebani lingkungan. Ketidakmampuan pengelolaan sampah plastik berimbas pada lingkungan yang tercemar yang akan berdampak langsung pada menurunnya kesehatan masyarakat.

Persoalan mendasar persampahan di Indonesia adalah persoalan struktural atau kelembagaan serta kesadaran masyarakat. Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai institusi pendidikan terkemuka memiliki tanggung jawab besar dalam pengelolaan sampah plastik di lingkungannya. Melalui kolaborasi dengan para alumni dan CSR, ITB menerima hibah vending machine sampah yang ditempatkan di area-area strategis kampus. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik, serta mendidik civitas akademika mengenai pentingnya memilah sampah untuk mendukung upaya daur ulang. Saat ini terdapat masing-masing 1 (satu) vending machine sampah di ITB Kampus Ganesha dan ITB Kampus Jatinangor. 

Gambar 1. Penampungan sampah plastik dengan vending machine sampah di ITB

ITB membuka potensi adanya inisiatif hibah serupa agar semakin banyak vending machine sampah plastik di ITB, hal ini disampaikan pada saat rapat Koordinasi Tindak Lanjut Pengelolaan Sampah ITB pada tanggal 20 Agustus lalu. Rapat dihadiri Direktur Sarana dan Prasarana, Direktur Perencanaan Sumberdaya, Direktur Pengembangan, Direktur ITB Kampus Jatinangor, Direktur ITB Kampus Cirebon, Direktur ITB Kampus Jakarta, dan Tim Dosen Satgas Persampahan ITB. Pada rapat diundang juga IATL-ITB sebagai salah satu narasumber.

Gambar 2. Peserta Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Pengelolaan Sampah ITB pada tanggal 20 Agustus 2024

Dengan adanya vending machine sampah, diharapkan seluruh penghuni kampus semakin terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Program ini tidak hanya akan membantu mengurangi dampak lingkungan dari sampah plastik, tetapi juga memperkuat hubungan antara ITB dan para alumni dalam upaya bersama menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Salah satu inovasi pemanfaatan sampah plastik yang berhasil terkumpul di vending machine sampah ITB adalah digunakan sebagai media tumbuh bakteri dalam pengolahan air limbah domestik dengan teknologi sanitasi tepat guna berbasis biofilter.

Mahasiswa ITB melakukan pengabdian masyarakat berupa pembangunan infrastruktur yang menunjang akses sanitasi  di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cimanggung pada bulan Mei hingga Juli 2024. Tidak hanya itu, mereka juga turut berkontribusi mengurangi sampah plastik. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan meliputi kegiatan pembangunan bak penangkap mata air yang mengacu pada RPAM (Rencana Pengamanan Air Minum), pembangunan MCK, dan pembangunan biofilter ramah lingkungan (bioraling). Penerima manfaat pembangunan ini adalah 60 orang penduduk yang tersebar di RT 01 dan RT 02, RW 03 Kampung Lebak Kaso. 

Gambar 3. Pemanfaatan sampah botol plastik dari vending machine sampah di ITB

Daerah ini masih memanfaatkan mata air berupa air tanah dalam pemenuhan kebutuhan airnya. Pembangunan Bak Penangkap Mata Air dengan ukuran eksisting panjang x lebar x tinggi adalah 200 cm x 156 cm x 132 cm dengan kapasitas maksimum mencapai 3 meter3 atau 3000 liter. Air yang tertampung di bak penangkap mata air akan dialirkan ke MCK atas (MCK eksisting) dan dialirkan ke bak reservoir di MCK bawah (MCK baru) menggunakan pipa HDPE. Bak Reservoir dibangun dengan kapasitas total 1 meter3. Bak reservoir sementara digunakan untuk menampung air untuk kebutuhan warga dan disalurkan ke MCK umum. 

Gambar 4. Pembuatan MCK dan dan Bak Penangkap Mata Air yang terintegrasi biofilter dengan media AMDK bekas

ITB juga melakukan kegiatan pembangunan MCK umum. Pelaksanaan Program pembangunan sarana sanitasi ini bekerja sama dengan aparatur Desa Cikahuripan dan masyarakat masyarakat di Desa Cikahuripan lebih khususnya masyarakat RT 03 RW 04. Pembangunan MCK Umum yang dilakukan meliputi pembangunan 2 pintu kamar mandi dan 1 ruang cuci dengan luas seluruh bangunan sebesar 4 m x 5 m. 

Selain itu, ITB juga melakukan pembangunan Biofilter Ramah Lingkungan (bioraling). Biofilter Ramah Lingkungan (bioraling) menjadi alternatif teknologi sanitasi tepat guna yang lebih murah namun tetap berkualitas baik. Sanitasi bertujuan dalam menjaga kebersihan suatu tempat untuk mencegah kontaminasi dari sumber penyakit serta mencegah pencemaran air dan tanah. Biofilter ini menggunakan media tumbuh bakteri yang terbuat dari botol air minum dalam kemasan (AMDK) bekas. Kebutuhan botol AMDK bekas yang digunakan sebesar 100 kilogram, sebagian besar memanfaatkan vending machine sampah plastik yang dikumpulkan ITB. Kegiatan pembuatan media tumbuh bakteri ini dibantu oleh ibu-ibu dan anak-anak di Desa Cikahuripan. 

Gambar 5. Media tumbuh bakteri dari AMDK bekas

Disusun oleh mintel

Admin IATL, pengurus konten dan website iatl-itb.org